Life is about risk. Setuju sama pernyataan ini? Kalau tidak coba baca dulu posting ini sampe habis :)

Intinya, business (apapun itu) terutama sekali online business adalah “all about risk”, “all about trend” and “all about strategy”. Dari penjual kaki lima, tukang parkir hingga ceo sebuah perusahaan, semua mengambil resiko bagi dirinya sendiri. Apapun jenis pekerjaan yang kita putuskan untuk diselami, semua memiliki resikonya sendiri-sendiri. Terlebih blogger. Mengapa begitu? Ya, berdasarkan pengalaman saya sih blogger atau pencari makan di internet memiliki resiko yang jauh lebih besar menyangkut mental dan fisik.

Bagi kebanyakan orang yang belum melek (konservatif, konvensional, ketinggalan zaman, gagap teknologi), online business sebagai main job adalah pilihan yang buruk. Ada banyak teman-teman saya sendiri yang tidak percaya dengan uang dari internet. Apapun itu, saya hanya bisa maklum mengenai pendapat mereka meski sudah saya coba untuk menjelaskan berkali-kali. Orang-orang tipe ini saya sebut sebagai golongan “pola kuno” dalam setiap aspek hidupnya, golongan yang lebih memilih berpanas-panasan pergi ke atm untuk transfer uang, sementara saya asik-asiknya transfer uang hanya dari hp atau laptop. Orang-orang yang tidak familiar dengan email, webstore, internet diluar chatting dan friendster.

Mungkin mereka juga tidak tahu, kalo penghasilan Google saat ini jauh lebih besar dari sebuah mall di pusat kota sekalipun.

Resiko lain? Saya sendiri mengalami dan menyikapi itu dengan positif. Karena meskipun teman-teman saya memberikan hanya sebelah mata kepada business online yang saya tekuni sekarang, toh mereka juga ikut menikmati (traktir, pinjem duit, dsb). Begitu pula dengan satpam komplek yang bingung melihat saya yang keluar 2-3 jam saja setiap hari. Mungkin mereka mikir “kerja apa ya nih orang tiap hari di rumah?” Ya. Rumah saya adalah kantor saya. Konon, ada beberapa bapak satpam yang bingung juga. “tiap hari di rumah, keluar cuma itungan jam, itu pun sore” tapi ada aja tiap bulan mobil pick up yang wara-wiri nanyain nomer rumah saya sama mereka buat anter ini itu barang belanjaan saya. Ya, mereka nggak tau kalo saya di rumah tiap hari kerja dan kerja.

Beberapa teman saya yang jauh bahkan ada yg mencemooh karena setiap kali mereka menelpon jam 8-9 pagi, saya pasti selalu baru bangun. Mereka bilang saya pemalas karena mereka toh udah bangun dari pagi, ngantor dengan gaji yang habis dipakai setiap bulan. Bagi mereka, ITU NAMANYA BARU KERJA. Ya, mereka tidak tahu kalau saya kerja sampe subuh sehingga bangun agak siang. Mereka cuma tahu saya yang santai, doyan belanja dan ga bekerja serajin mereka! Saya cuma jawab, siapa suruh ga melek teknologi. Eh, akhirnya minta juga diajarin ngeblog. Saya ajarin dengan niat tulus, dibilang pelit ilmu, ga serius ngajarin. Saya suruh baca ini itu, eh males, mintanya dijelasin aja langsung secara private. Loh loh. Ada utang apa ya saya sama mereka? Cape dee.

Ya begitulah nasib seorang blogger seperti saya. Mudah-mudahan beberapa tahun ke depan, semua orang bisa membuka mata terhadap internet. Gini-gini saya juga salah satu penyumbang devisa negara loh.

Nah, daripada ambil lebih banyak resiko, sekarang kalau ada yang bertanya apa pekerjaan saya, maka saya akan jawab dengan singkat “saya pengangguran”, “oh ya, kalau kamu liat saya ga pernah cekak, itu duit semua turun dari langit kok”

Langit biru? Maksud lo?

Ngacir dulu ah :)